Gambaran Kawasan Gedung Perundingan
Linggarjati
Linggajati, juga dieja Linggarjati, adalah sebuah desa di
kecamatan Cilimus, Kuningan yang terletak di kaki Gunung Ceremai, antara kota Cirebon dan Kuningan. Di
tempat ini dilangsungkan Perundingan
Linggarjati antara
Indonesia dan Belanda pada tahun 1946. Tempat
diselenggarakannya Perundingan Linggarjati kini dilestarikan sebagai Museum
Linggarjati.
Gedung
Perundingan Linggajati saat ini berdiri di atas areal seluas sekitar 24.500
meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.800 meter persegi. Bangunan
tersebut terdiri atas: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord
Killearn, ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur
delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC,
ruang setrika, gudang, bangunan paviliun, dan garasi.
Sebagai
catatan, ruangan dan segala perabotan yang ada di dalam gedung pada tahun 1976
(saat dipugar oleh pemerintah), dibuat sedemikian rupa agar data dan suasananya
sedapat mungkin sama pada seperti tahun 1946 (sewaktu perundingan
dilaksanakan). Selain itu, di dalam gedung juga dilengkapi dengan gambar/foto
situasi saat perundingan berlangsung dan bahan-bahan informasi lain bagi
pengunjung.
Gedung atau Museum Linggarjati sebutannya adalah salah satu
saksi sejarah tentang Indonesia yang mencintai kemerdekaan, dan melalui sosok
Bung Sjahrir serta kegigihan diplomasinya juga adalah Indonesia yang mencintai
damai.
Sekilas sosok Bung Sjahrir bisa kita lihat dalam
ungkapan R.Z. Leirissa (Syahrir the
real/genuine diplomat),'His idea of achieving sovereignty by peaceful means constituted a
praiseworthy moral approach.
Ruang Perundingan Linggarjati meski dengan perabot
replika toh cukup membantu pengunjung mendapatkan gambaran suasana ketika itu.
Deretan kursi di sebelah kiri ditempati delegasi pihak Indonesia, dipimpin
Sutan Sjahrir perdana menteri pertama Indonesia. Pihak Belanda menempati
deretan kursi di sebelah kanan. Bertindak sebagai mediator adalah diplomat
Inggris Lord Killearn, utusan khusus Inggris untuk Asia Tenggara, berkedudukan
di Singapura.
Selama perundingan berlangsung, Lord Killearn dan
beberapa delegasi Belanda seperti Schermerhorn, Ivo Samkalden, P. Sanders
menginap di Linggarjati. Kamar-kamar yang ditempati tokoh-tokoh perundingan
dilabeli dengan baik di museum. Letnan Gubernur Jenderal van Mook dan anggota
delegasi lainnya lagi menginap di Kapal Perang Banckert. Sedangkan delegasi
Indonesia menginap di rumah Bung Sjahrir di Linggasana, desa tetangga
Linggarjati, berjarak sekitar 20-25 menit jalan dari museum.
Sejumlah foto-foto dokumentasi seputar perundingan
menghiasi dinding Ruang Perundingan Linggarjati. Antara lain foto wartawan
mancanegara mengetik naskah berita di pagar tangga kediaman Bung Sjahrir di
Linggasana. Menurut keterangan pemandu foto-foto diperoleh dari Kedutaan
Belanda.
Paling berkesan untukku adalah foto ketua delegasi
Indonesia Bung Sjahrir dan ketua delegasi Belanda W. Schermerhorn memaraf
Naskah Perjanjian Linggarjati di ruang tamu kediaman resmi Bung Sjahrir,
Pegangsaan Timur No. 56. Pemarafan naskah dalam bahasa Belanda tersebut
berlangsung pada tanggal 15 November 1946, sementara naskah dalam bahasa
Indonesia dan Inggris diparaf pada 18 November di Istana Negara, Jakarta.
Secara resmi Perjanjian Linggarjati ditandatangani di Istana Negara (25 Maret
1947).
Aku menyukai foto ini karena kita menyaksikan
kesetaraan. Bung Sjahrir tidak memaraf sambil ditunggui Belanda yang berkacak
pinggang, melainkan bersama-sama duduk sebagai bangsa yang sederajat.
Berdiplomasi untuk memenangkan kemerdekaan tetapi bukan Indonesia yang tunduk.
Semoga tidak akan kita lupakan kegigihan dan
kepercayaan pria berperawakan kecil kelahiran Padang Panjang bahwa bahwa ada
cara mencapai kemerdekaan yang tidak selalu mesti menggunakan senjata.
Bung Sjahrir usai penandatanganan Perjanjian
Linggarjati memberikan sambutan, 'Dunia penuh dengan pertentangan, penuh dengan
bahaya perjuangan, dunia gelap. Di Indonesia kita menyalakan obor kecil, obor
kemanusiaan, obor akal yang sehat yang hendak menghilangkan suasana gelap,
suasana pertentangan yang menjadi akibat serta mengakibatkan pula perkosaan dan
pembinasaan, suasana sesak serta gelap. Marilah kita pelihara obor ini, supaya
dapat menyala terus serta menjadi lebih terang. Mudah-mudahan ia akan merupaka
permulaan terang di seluruh dunia.'
Jika India memiliki Mahatma Gandhi, maka
sesungguhnya kita memiliki Bung Sjahrir dan Linggarjati sebagai bagian dari
sejarah yang berusaha menempuh jalan ahimsa untuk mencapai kemerdekaan.
Gedung Perundingan
Linggajati ini dapat dicapai dari Kota Cirebon dan dari Kota Kuningan. Kondisi
jalan umumnya beraspal dan baik, dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat,
dengan jarak rute perjalanan sebagai berikut :
·
Cirebon – Gedung Perundingan Linggarjati ±
27 Km.
·
Kuningan – Gedung Perundingan Linggarjati ±
15 Km.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar